SURAT GEMBALA PRA PASKAH 2017 KEUSKUPAN MALANG

posted in: KONTEN UPDATE, PASTORAL | 0

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2017

KEUSKUPAN MALANG

“KELUARGA YANG BERWAWASAN EKOLOGIS”

 

Saudara-saudari

Segenap Umat Beriman

Para Imam, Biarawan dan Biarawati

di seluruh Wilayah Keuskupan Malang terkasih,

 

Akhir-akhir ini,kita semakin merasakan adanya perubahan alam. Hawa semakin panas saja. Musim hujan dan kemarau tidak lagi teratur. Banjir hebat terjadi di banyak tempat yang dahulu tidak pernah tersentuh oleh banjir. Beberapa jenis burung tidak pernah lagi kita lihat. Masih banyak lagi gejala alam lain yang menunjukkan bahwa saat ini alam, tempat kita hidup, sedang mengalami kerusakan yang serius. Kerusakan ini sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia sendiri.

Karena keserakahannya, sumber alam dikeruk habis-habisan tanpa memedulikan dampak-dampak negatifnya. Orang mencemari air sungai dan laut dengan limbah industri dan sampah yang membahayakan kesehatan manusia. Orang tidak mau repot mencuci sehingga lebih suka menggunakan barang-barang yang sekali-pakai-buang. Orang menebang pohon habis-habisan untuk membuat kertas, tissue dan kebutuhan-kebutuhan manusia lainnya. Padahal, gundulnya hutan-hutan membawa dampak yang serius, misalnya: terjadinya banjir dan menjadi kotornya udara yang kita hirup sebab hutan mempunyai fungsi sebagai paru-paru dunia. Singkat kata, dewasa ini kita sedang mengalami krisis ekologis atau krisis lingkungan hidup yang mencemaskan dan membahayakan generasi manusia berikutnya. Dari sebab itu, pengrusakan alam ini harus segera dihentikan. Tindakan-tindakan pencegahan serta pemulihan alam harus digalakkan terus. Kita harus melakukan pertobatan ekologis, seperti kata Paus Yohanes Paulus II, enam belas tahun yang lalu. Gereja, sebagai bagian dari umat manusia, harus ikut dalam usaha penyelamatan alam.

Para saudara yang terkasih. Kita baru saja memasuki Masa Prapaskah, masa puasa. Selama masa ini, kita semua diajak untuk bertobat. Seperti kata nabi Yesaya, bertobat berarti berhenti berbuat dosa, dan belajar berbuat baik (bdk. Yes. 1:16-17). Selama masa puasa ini, Gereja mengajak kita untuk berhenti berbuat dosa. Itu usaha yang baik. Akan tetapi, itu saja tidaklah cukup. Bertobat berarti juga belajar melakukan sesuatu yang baik, baik untuk diri kita sendiri, baik untuk orang lain, baik untuk masyarakat, bahkan baik untuk alam. Dalam kaitan dengan krisis lingkungan hidup, Gereja Katolik di Indonesia pada tahun 2017 ini mengadakan Aksi Puasa Pembangunan dengan tema “Keluarga Berwawasan Ekologis.” Gereja ingin mengajak semua keluarga untuk ikut menyelamatkan alam dari kehancuran. Keluarga adalah lembaga pertama di mana manusia mendapatkan pendidikan nilai-nilai. Keyakinan agama, keyakinan moral serta kebiasaan yang baik dan buruk biasanya diperoleh orang dari keluarganya. Sebagaimana sel-sel membentuk tubuh, begitu juga keluarga-keluarga membentuk masyarakat. Jika keluarga-keluarga sehat, masyarakat pun akan sehat. Jika keluarga mampu memberikan pendidikan yang baik kepada anggota keluarganya, tentunya masyarakat akan baik juga. Dalam kaitan dengan pertobatan ekologis, Gereja ingin menghimbau keluarga-keluarga Katolik untuk ikut menyelamatkan dunia dari malapetaka ekologis.

Saudara-saudari yang terkasih, ada beberapa hal yang perlu ditanamkan dalam hati dan pikiran setiap anggota keluarga kita.

Pertama, perlu diajarkan kepada anggota keluarga kita bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dalam keadaan baik, indah dan teratur. Dalam kisah penciptaan dunia dikatakan bahwa Allah menilai ciptaan-Nya itu “sungguh amat baik” (Kej.1:31). Lalu Allah menyerahkan dunia kepada manusia untuk menjadi tempat tinggalnya dan menjadi sumber kehidupannya. Memang benar, Allah telah menugaskan manusia untuk menguasai dunia, seperti dikatakan dalam Kejadian 1:28, “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu …” Akan tetapi, di sisi lain, tugas manusia adalah mengelola dan memelihara dunia, bukan menghancurkannya, sebagaimana nyata dari Kej. 2:15 ini, “TUHAN Allah mengambil manusia dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Sayang sekali, alam yang semula amat indah dan teratur itu mengalami kerusakan akibat dosa manusia. Hubungan harmonis, yang pada mulanya ada diantara manusia dan alam, mengalami gangguan, dan keharmonisan yaitu akan semakin terganggu apabila manusia terus-menerus merusaknya.

Kedua, perlu kita sadari bahwa alam diberikan oleh Allah kepada semua manusia di segala zaman dan tempat. Oleh karena itu, tidak dibenarkan kalau hanya segelintir manusia saja yang menikmati kekayaannya, sementara orang lain menderita kekurangan. Perlu ada keadilan sosial bagi semua manusia.

Ketiga, kita semua bertanggungjawab untuk ikut menjaga alam. Sumber alam ini terbatas maka pemakaiannya harus bijaksana. Kita bertanggungjawab kepada generasi manusia berikutnya. Perlu kita tanamkan dalam keluarga kita kesadaran ekologis, misalnya: membatasi pemakaian kertas dan tissue agar penebangan pohon yang biasanya menjadi bahan bakunya juga dapat dibatasi, membatasi penggunaan benda-benda yang sekalipakai-buang, menghemat pemakaian listrik dan air, menggalakkan penanaman pohon atau tanaman, mengurangi penggunaan benda-benda dari plastik yang tidak bisa di daur ulang, meningkatkan penggunaan barang-barang yang ramah lingkungan, mengurangi pemakaian detergen yang merusak lingkungan, dan lain sebagainya. Tindakan-tindakan yang tampaknya sepele itu akan menjadi besar dan berarti jika dilakukan oleh banyak keluarga.

Keempat, ikut menjaga kelestarian alam berarti menghormati Allah, Sang Penciptanya, dan menghormati sesama kita. Maka dari itu, menjaga keutuhan alam dapat dipandang sebagai suatu bentuk ibadat juga.

 

Para saudara yang terkasih, berulang kali, melalui seruan para Paus, Gereja Katolik menyerukan pentingnya menyelamatkan alam. Paus Fransiskus, misalnya, telah menegaskan bahwa alam tidak bisa membela diri sendiri. Kitalah yang harus menjaga dan membela alam terhadap tindakan manusia yang merusaknya. Beliau juga menegaskan bahwa alam yang disapa oleh Santo Fransiskus dari Asisi sebagai saudara dan saudarinya, saat ini sedang merintih karena diperlakukan secara sewenang-wenang oleh manusia.

 

Marilah kita bersama-sama melakukan pertobatan ekologis. Tindakan-tindakan kecil kita akan menjadi besar kalau dilakukan bersama-sama. Semoga Tuhan memberkati pertobatan kita sehingga membawa buah-buah pertobatan yang berguna untuk diri kita sendiri, untuk sesama dan untuk alam yang adalah rumah kita bersama. Tuhan memberkati.

Malang, 25 Pebruari 2017

Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O. Carm

Bagikan :