GEREJA ZIARAH RATU ROSARI DARI FATIMA

 AWAL MULA

Konon Rm.Ben Ujan, SVD. Pada suatu kesempatan pergi ke Portugal. Beliau ingin sekali masuk ke tempat Ziarah Maria Fatima. Tetapi hal itu ditolak karena secara politik hubungan Indonesia dan Portugal saat itu agak tegang yang berkaitan dengan masalah Tim Tim. Romo Ben pun sangat kesal dengan keadaan itu, “Mau doa rosario aja nggak boleh…” ujar Romo Ben jengkel. Mendengar kata “Rosario” serta merta petugas yang berjaga disitu mengijinkan Rm. Ben masuk. Setelah berdoa disana, dalam hati Rm.Ben berjanji andaikan kelak di Indonesia ia boleh membangun Gereja dan memimpin Paroki, gereja itu akan ia persembahkan kedalam perlindungan Bunda Maria Ratu Rosari dari Fatima.

Sungguh, ketika Rm. Ben bertugas di Indonesia ia mendapat tugas mendirikan gereja di Kesatrian, gereja itu diberi nama Gereja Ratu Rosari dari Fatima (1982). Bahkan bukan hanya itu, di gereja itu Rm.Ben membangun pula sarana devosi kepada Bunda Maria berupa Patung Bunda Maria yang cukup besar yang ditempatkan di atas balkon depan gereja dan juga di buatkan relief Peristiwa Gembira, Peristiwa Mulia dan Peristiwa Sedih yang mengelilingi ruang gereja.

Dan sejak saat itu umat mulai tergerak untuk melakukan devosi kepada Bunda Maria dengan sangat antusias, baik berupa doa rosario ataupun doa novena. Dan sudah banyak doa dan permohonan umat terkabul berkat ziarah di tempat itu. Uniknya, bukan hanya bagi umat dari Paroki Kesatrian saja yang berdoa di depan patung Bunda Maria tetapi sering pula dari umat Paroki lain yang turut berdoa di depan patung Bunda Maria, bahkan pernah ada sepasang suami istri minta izin kepada Bp. Susilo selaku petugas Satpam gereja saat itu, padahal mereka non-Kristiani. “Saya merasa melihat ada cahaya di sekitar patung Bunda Maria.” Ucap sang suami yang berprofesi sebagai tukang becak itu.

PENCANANGAN SEBAGAI GEREJA ZIARAH

Pada masa pelayanan Rm.Yan Madia, SVD. di Paroki Ratu Rosari dari Fatima (2003-2013). Beliau melihat potensi gereja ini untuk menjadi gereja ziarah sangat besar, tetapi sayang potensi ini kurang di sentuh “Sebenarnya gereja kita ini amat berpotensi untuk menjadi tempat ziarah, relief rosario dengan tiga peristiwa sudah ada, patung Bunda Maria dari Fatima pun tersedia, pelataran luas, dan lingkungan juga amat mendukung. Kenapa tidak kita angkat sebagai tempat ziarah umum ?” cetus Rm.Yan Madia saat itu.

Maka dengan kesepakatan dan dukungan Dewan Pastoral Paroki Ratu Rosari, mulailah dilakukan pembenahan-pembenahan mulai dari mempercantik lingkungan dan melengkapi Peristiwa Cahaya sampai mempersiapkan sarana-sarana pendukung yang lebih memadai demi terselenggaranya kegiatan pesiarahan yang terbuka untuk umum.

Disaksikan sekitar 600 peziarah, pada 13 Juli 2005 pukul 17.00 WIB. Bapak Uskup Malang Mgr. HJS Pandoyoputro, O.Carm. memberkati tempat ziarah Ratu Rosari dari Fatima. Pemberkatan tersebut ditandai dengan pemberkatan air suci “Banyu Pitu” yang disediakan di area Gereja Ziarah bagi para peziarah dimana air itu dapat diminum langsung bagi pesiarah yang membutuhkan dan dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti.

Dalam kata sambutannya, Bapak Uskup menyampaikan bahwa “Tempat Ziarah Ratu Rosari dari Fatima ini bisa menjadi tempat ziarah ketiga di Keuskupan Malang setelah Sendang Purwaningsih – Donomulyo Malang Selatan dan Goa Maria Maria Jatiningrum – Curahjati Banyuwangi, dimana lokasi Gereja Ziarah Ratu Rosari ini lokasinya amat memungkinkan, dan arsitektur gerejanyapun sudah mirip dengan arsitektur gereja Portugal. Tetapi tentu saja, diperlukan kesaksian iman untuk mendukung legalitas tempat ziarah ini. Antusiasme umat, kerinduan umat akan devosi kepada Bunda Maria, saya yakin, akan membuat tempat ini berkembang.” Begitu Bapak Uskup menegaskan.

MISA ZIARAH

Pada awalnya prasarana ziarah yang ada diperuntukkan bagi peziarah perorangan atau kelompok kecil/terbatas saja. Namun sejak prasarana ziarah itu direnovasi pada tahun 2005 maka kegiatan ziarah diarahkan demi kelompok besar yang mau tak mau harus diurus oleh sebuah kepanitiaan dalam penyelenggaraannya melalului pembagian tugas kepanitiaan per-Wilayah secara bergantian dan dilaksanakan Misa Ziarah secara rutin setiap tanggal 13 mulai bulan Mei sampai bulan Oktober tiap tahunnya.

Ritus Ziarah Ratu Rosari dari Fatima dibagi menjadi dua bagian yaitu Doa Rosario terpimpin dan Misa Kudus. Doa rosario didaraskan berdasarkan peristiwa-peristiwa Rosario menurut hari hari tertentu. Dalam doa rosario tersebut juga dibacakan renungan yang disusun atas dasar tema. Sedangkan Misa Kudus selalu dipimpin oleh Romo Konselebran yang diundang dari paroki atau kongregasi lain. Bahkan, paduan suarapu dipersembahkan oleh paduan suara dari paroki lain atau kelompok kelompok paduan suara dari luar.

SEKOLAH MARIA

Sebagai bentuk upaya agar umat peziarah dapat mengenal lebih dalam akan Sosok Bunda Maria beserta seluruh keteladananNya sekaligus agar umat peziarah dapat lebih khusuk dalam berziarah baik melalui berDevosi secara pribadi dan kelompok maupun mengikuti misa ziarah, maka pada tiap tanggal 10 mulai bulan Mei sampai bulan Oktober, diselenggarakan semacam rekoleksi yang diberi nama Sekolah Maria, dimana Sekolah Maria ini dilaksanakan di area Gereja Ratu Rosari dan terbuka untuk umum.

Dalam Sekolah Maria ini seluruh tema dan materi disesuaikan dengan tema misa ziarah dengan nara sumber yang mengisi Sekolah Maria tersebut adalah Romo-romo atau orang-orang yang kompeten.

PEMBANGUNAN GUA MARIA “GROTTO MARIA RATU ROSARI de FATIMA”

Pada masa pelayanan Rm. Agustinus I Nyoman Murtika, SVD. (2013 – Sekarang), dibangunlah sebuah Gua Maria yang diberi nama “Grotto Maria Ratu Rosari de Fatima” yang terletak di area belakang Gereja tepatnya di area Taman Doa Paroki Ratu Rosari dimana terdapat relief-relief peristiwa rosario yang mengelilinginya. Gua ini berdiri dengan megah dengan suasana yang begitu nyaman dan khusuk.

Dengan keberadaan gua Maria ini semakin lengkaplah zarana peziarahan di Gereja Ratu Rosari dari Fatima. Gua Maria ini diresmikan oleh Bapak Uskup Malang Mgr. HJS Pandoyoputro, O.Carm. pada hari Rabu, 25 Maret 2015 Pukul 17.00 Wib.

Bagikan :