SOVERDIA SEBUAH KELOMPOK KATEGORIAL MENARIK

Oleh: M.G. Diah Lukitowati

Konstitusi SVD menekankan kerjasama dengan kaum awam dalam karya pelayanan (Konstisusi no. 111). Soverdia sebagai satu paguyuban awam merupakan perwujudan ide tersebut. Sejauh mana kita mengenal Soverdia yang telah menjadi bagian integral dari hidup missioner kita? Tulisan dari seorang anggota Soverdia ini dapat memberi satu gambaran. (red).

Tidak banyak orang yang memahami dan mengetahui secara pasti tentang keberadaan Awam SVD, karena sampai saat ini belum terlihat karya-karya yang dapat diketahui oleh umat sekitarnya. Tetapi sebenarnya ada beberapa tokoh yang dengan gigih memperjuangkan Awam SVD yang sekarang disebut paguyuban “SOVERDIA” ini.

Br. Laurens Wisang, dengan semangat sederhana berani mengajak beberapa pemerhati untuk mendirikan Awam SVD. Ada Ibu Wihardjo Seputro yang berjuang agar Paguyuban Soverdia tetap eksis. Keduanya bisa menjelaskan betapa banyak tantangan yang dihadapi saat-saat mereka memperjuangkan dan mempertahankan Paguyuban Soverdia.

Awal mula Paguyuban Soverdia adalah dari kelompok para pemerhati awam yang rela dan dengan kesadaran penuh mendukung para misionaris Serikat Sabda Allah atau SVD (Societas Verbi Divini) dalam mengkomunikasikan sabda Allah melalui karya-karya kasih dan meneladani Allah Putera yang menjelmakan kasih Allah Bapa yang tak terhingga dalam hidup di zaman ini. Panggilan Tuhan diwujudkan dengan terhimpunnya umat awam demi kebersamaan dalam karya kerasulan, dalam panggilan menjadi awam misioner yang berdayaguna dan bersumber dari pengalaman akan Allah, baik secara individu maupun dalam kelompok. Dalam kebersamaan tersebut para anggota belajar untuk saling melengkapi, saling memperkaya hidup panggilannya dengan doa.

Pendekatan-pendekatan untuk saling mengenal secara pribadi telah menjadi tugas pelayanan utama. Tugas-tugas yang telah dijalankan dengan rela tersebut menjadi pelajaran yang membawa hikmah guna memupuk kasih kesetiaan Allah Tritunggal.

ADANYA AWAM SVD

Pencetusan pertama adanya Awam SVD berawal dari pondok Ontoseno Malang, yang sekarang menjadi Postulat Stella Maris, dengan alamat lengkapnya Jl. Ontoseno 4 Polehan Malang. Lokasi pondok Ontoseno saat itu sangatlah sederhana, masih berupa hamparan bekas sawah di mana dibangun sebuah pondok kayu beratap seng tanpa pagar batas. Pondok tersebut mempunyai tiga ruang tidur dan sebuah ruang tamu. Untuk mencapai pondok harus melalui pematang sawah.

Br. Lourens Wisang yang pertama kali menempati pondok itu dan mengolah lahan tersebut. Meskipun sederhana dan terpencil, pondok Ontoseno mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pemerhati dari Malang, Surabaya, Jakarta dan luar Jawa. Dari kunjungan keluarga-keluarga tersebut timbul gagasan untuk mendirikan Awam SVD yang kemudian mendapat sambutan antusias.

Tanggal 12 Juli 1988 terbentuklah kelompok Awam SVD dengan tetap berfokus pada semangat pendiri Serikat Sabda Allah, Konsili Vatikan II mengenai peranan Awam, Ajaran Gereja dan Pengalaman pribadi berpastoral, serta komitmen SVD yang tertulis dalam buletin “Witnessing to the World”, tentang The Mission of Laity, and SVD Commitment.
Para pelopor Awam SVD sebagian besar adalah 10 keluarga guru-guru dari SDK St. Theresia, Paroki Kristus Raja Surabaya. Dimulai dari 10 keluarga inilah Awam SVD berkembang menjadi 73 keluarga. Kemudian menyusul dari paroki-paroki lainnya, seperti Malang (62 keluarga), Jakarta (40 keluarga), dan Surabaya (50 Keluarga).

LANGKAH AWAL

DOA sebagai dasar hidup menggambarkan bahwa manusia mulai membuka hati secara intens terhadap manifestasi kehadiran aktif Allah dalam diri manusia pada peristiwa-peristiwa dan keberadaan sehari-hari.

Sikap dasar inilah yang mendorong anggota untuk selalu mengawali pertemuan dengan doa. Secara sukarela mereka juga mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke seminari Tinggi Rajabasa dan Novisiat Batu.

Bimbingan rohani dengan rekoleksi ½ hari juga salah satu langkah perjalanan dari Awam SVD. Ada yang membawa putra dan putri dan sahabat, sehingga sahabat Awam SVD yang pernah mengikuti doa dan rekoleksi menjadi anggota dari Awam SVD baru. Tempat pertemuan saat rekoleksi awalnya di Aula St. Theresia, Paroki Kristus Raja Surabaya.

Pada bulan Agustus 1991, paguyuban Soverdia mengadakan rekoleksi di Paroki Salib Suci Tropodo dan pada bulan November 1991 diadakan di Paroki Gembala Yang Baik. Tanggal 12 Desember 1991, anggota Soverdia yang aktif berkumpul di rumah Ibu Maria Yayuk (Jl. Panjangjiwo) dengan tujuan membenahi kekurangan-kekurangan dan belajar mandiri dengan pengarahan oleh P. Pius Kila dari Yogyakarta. Pertemuan pengurus diadakan setiap bulan di Aula RKZ dibimbing oleh P.A.Wetzer SVD. Sedikit demi sedikit Soverdia mulai terorganisir.

PEDOMAN DASAR

Untuk bisa mendapatkan pengesahan dari Provinsial, awal mulanya Awam SVD diperkenalkan kepada para anggota SVD di biara Soverdi. Perlu adanya dialog yang mempunyai sifat bekerja sama tanpa pamrih dan keterbukaan dalam membentuk persaudaraan sejati.

Tanggal 31 Mei 1990 nama Awam SVD diresmikan menjadi paguyuban “SOVERDIA” dengan pedoman dasar sementara, yang disusun oleh Dewan Provinsi Jawa di Surabaya. Berjalan dengan pedoman dasar sementara tersebut, Paguyuban Soverdia berkembang dari Paroki-paroki yang dilayani oleh para imam SVD, seperti Paroki Yohanes Pemandi Wonokromo, Gembala Yang Baik Jemur Andayani, Salib Suci tropodo, Sakramen Maha Kudus Pagesangan dan beberapa paroki lain di Jakarta dan Malang. Rencana yang akan datang berkembang ke Batam. Sangat disayangkan para anggota perdana dari Paroki Kristus Raja sedikit demi sedikit mulai tidak aktif.

Untuk lebih berdaya guna, pada tanggal 12 Desember 1992 dibentuk kepengurusan baru yang diketuai oleh Ibu Wihardjo Saputro. Peresmian dan pelantikan pengurus tersebut diselenggarakan di RKZ dan ditentukan oleh Provinsial, pembimbing paguyuban Soverdia adalah P.A.Wetzer. Dalam perkembangan lanjut, karena kesehatan P.A.Wetzer tak memungkinkan, pembimbing Soverdia diserahkan diambil alih oleh P. Pius Kila. Resmilah Paguyuban Soverdia menjadi rekan kerja SVD yang sudah mempunyai pedoman dasar dan kepengurusan yang resmi.

SOVERDIA BERJALAN

Setelah peresmian, Paguyuban Soverdia mulai mengembangkan sayapnya untuk mulai mensosialisasikan dirinya dengan beberapa kegiatan. Contoh kegiatan:

1). Mengumpulkan dana untuk bantuan pendidikan para calon misionaris SVD di Batu dan Malang.

2). Mengumpulkan dana untuk membantu bencana alam.

3). Mengikkuti doa/triduum bersama anggota SVD dan SSpS untuk merayakan Pesta St. Arnoldus Janssen (15 Januari) dan St. Josef Freinademetz (29 Januari).

4). Mengadakan kunjungan keluarga, dan orang sakit.

5). Mencetak buku Pedoman dasar dan Vademecum (buku doa) Soverdia.

6). Mengadakan kegiatan kerasulan doa tetap, jatuh pada hari senin ke III dengan ibadat Ekaristi bersama.

7). Mengadakan rekoleksi dan pendalaman Kitab Suci per tiga bulan.

8). Mengambil bagian karya kerasulan dalam paroki

9). Mencetak / menjual kartu Natal

10). Membuat kaos berlogo Soverdia.

11). Membuat Seragam Soverdia berwarna biru muda/biru tua dan lencana

12). Menghadiri kaul pertama dan kaul kekal di seminari Tinggi SVD di Malang

13). Ikut serta dalam pameran panggilan

14). Mengikuti rapat Kapitel Provinsi Jawa dan mengikuti seminar yang diadakan oleh SVD

15). Mengadakan ziarah ke tempat-tempat ziarah, seperti Puh Sarang dll

VISI SOVERDIA

    SOVERDIA adalah paguyuban dari rekan-rekan kerja SVD yang dipilih dari kalangan Umat Allah.

  1. Menghidupi janji pembaptisan dan keterlibatan berdasarkan sakramen Penguatan yang telah diterima. Mencinta Allah dan sesama dengan melaksanakan semua yang baik dan benar dan menghindari kejahatan; mengikuti perintah Allah dan Gereja; memberikan kesaksian hidup baik serta menolong sesama di lingkungan hidupnya dan di mana bantuannya diperlukan.
  2. Percaya dan meresapi karisma Serikat Sabda Allah (SVD) dan mendukung kerasulan Serikat Sabda Allah dengan cara dan sarana jasmaniah maupun rohaniah.
  3. Dengan suka rela mendaftarkan diri, diakui dan diterima secara resmi sebagai rekan kerja misioner

Paguyuban pendukung dan/atau penderma Serikat Sabda Allah (SVD) yang suka rela mendaftarkan diri sebagai anggota auxilier dengan tanggung jawab dan kewajiban tersendiri.

  1. Melalui kesaksian hidup iman mengembangkan Paguyuban dengan mencari anggota baru
  2. Menjadi anggota paguyuban tidak dibatasi oleh wilayah, kedudukan, umur, karena yang menyentuh adalah Tuhan sendiri. Jadi tidak seperti mengumpulkan keanggotaan, organisasi manusiawi lewat propaganda, pengaruh ikut-ikutan, tetapi mendapat satu dorongan rohani.
  3. Para anggota paguyuban Soverdia diharapkan tidak memutuskan hubungan dengan SVD karena berbagai perubahan situasi kondisi: mandek dalam pendapatan, perpindahan alamat, perkawinan, menjadi tua dll.
  4. Bantuan atau dukungan anggota paguyuban kepada karya misioner Sabda Allah (SVD) dapat berupa kurban kudus, doa, dana, dan tenaga secara sukarela.

MISI /PERUTUSAN

Pertama-tama ditekankan perutusannya:”Karena itu pergilah kamu ke seluruh dunia dan jadikanlah mereka murid-muridKu, ajarilah mereka mengikuti segala perintah ku yang telah kuberikan kepadamu” (Mat 28 : 18 – 20)

Memenuhi perintah Kristus, menjadi saksi-saksi Kristus di tempat lingkungannya masing-masing dengan ikut ambil bagian kerohanian dan karya missioner Serikat sabda Allah

Menyerahkan diri untuk melayani umat Allah dalam keluarganya, dalam paroki/keuskupan melalui usaha-usaha cinta kasih, pengampunan, persatuan dan perdamaian dalam keluarga.

Berdoa dan bekerja untuk perdamaian, menguatkan saudara-saudara yang lemah imannya, peka dan tanggap terhadap kebutuhan sesama dan membantunya, terutama para miskin.

Paguyuban mempersembahkan doa dan kurban dalam hidupnya untuk mendukung para anggota SVD menumbuhkan dan mengembangkan panggilan imam, biarawan-biarawati dan para misionaris awam dalam keluarga dan lingkungannya.

Setia dalam panggilan masing-masing bersedia dibimbing oleh Roh Kudus, jadilah misionaris pewarta kabar gembira sesuai dengan kemampuan.

Tabah menerima berbagai pengalaman hidup karena Tuhan memanggil.
Bahagia dalam hidup panggilan ini dan tak mau dipisahkan dari Dia yang memanggil menjadi anggota paguyuban.

TUJUAN POKOK

Membentuk komunitas-komunitas misioner terdiri dari keluarga-keluarga katholik maupun perorangan yang saling mengenal, berbagi hidup dalam persaudaraan dan memberikan kesaksian iman dalam hidup Kristiani

Membantu animasi dan pendalaman misioner di antara umat Kristiani.
Mewartakan Sabda Allah melalui kesaksian hidup Kristiani pada kelompok-kelompok di mana Sabda Allah belum cukup diwartakan.

Memberikan pelayanan kepada kelompok-kelompok yang tersisih dan terlalaikan dalam masyarakat.

SPIRITUALITAS MISIONER

Inti/Dasar Spiritualitas Misioner

  1. llah Tritunggal hidup dalam setiap orang :Allah Bapa – Allah yang mau memberi berlimpah-limpah dari diriNya bagi hidup dunia, Allah Putra – mengkombinasikan pemberian diri Allah Bapa itu sehabis-habisnya dengan menjelma menjadi manusia wafat dan bangkit Allah Roh Kudus – Komunikasi Allah Putra selalu dalam kuasa dan bimbingan Roh Kudus
  1. Oleh pembaptisan manusia menjawab panggilan mulia Allah Tritunggal untuk mengambil bagian dalam hidup Allah Tritunggal itu. Melalui dan dijiwai oleh spiritualitas misioner, orang bersangkutan diajak untuk terus menerus menjalankan transendensi diri, menuju Allah Tritunggal semakin menjadi PUSAT hidupnya. Semakin Allah Tritunggal menjadi pusat hidupnya, semakin dijiwai oleh spiritualitas misioner Allah Putra yang menjelmakan Kasih tak terhingga Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus
  1. Dijiwai oleh Allah Tritunggal. Orang diajak untuk membangun komunitas/paguyuban Trinitaris biarawan-awam, pria-wanita dalam paguyuban yang akrab. Meneladani Allah Putra menjelmakan Kasih Allah Bapa yang tak berhingga, dalam kuasa Roh Kudus berarti menampakkan hidup dan karya misioner Allah Tritunggal bagi dunia, khususnya di daerah perintis.

Perwujudan spiritualitas misioner dalam hidup sehari-hari:

  1. Latihan rohani. Lewat latihan rohani: ekaristi suci, doa, meditasi, rekoleksi, pengakuan dan lain-lainnya orang diajak untuk semakin mengenal diri dan Allah Tritunggal, menuju hidup Tritunggal sentris
  2. Hidup bersama baik antar anggota awam sendiri maupun dengan anggota biarawan
  3. Studi Kitab Suci dan lain-lainnya untuk semakin mengembangkan hidup dan karya misioner Trinitaris itu
  4. Dalam pengalaman hidup sehari-hari terus meningkatkan keselarasan antara visi (spiritualitas) sikap/tingkah laku kebutuhan psikologis (afeksi)
  5. Lewat tugas-tugas misioner yang dijalankan dengan rela belajar memetik hikmah guna semakin memupuk hidup trinitaris sentris
  6. Lewat hal-hal fisik juga bisa harus dikembangkan hidup Trinitaris sentris itu bukan hanya budi, hati juga segala tindakan yang menyangkut phisik: sport, makan, piknik, dll

PEMBENTUKAN/FORMASI

Hubungan antara Serikat Sabda Allah dengan Soverdia digambarkan sebagai berikut:
Mengundang paguyuban Soverdia ke paroki-paroki, sekolah-sekolah dan bidang karya lainnya dimana serikat sabda Allah melibatkan diri

Membina anggota-anggota Soverdia melalui seminar, rekoleksi, ret-ret, kursus tertulis dan pertemuan-pertemuan setempat: tingkat pembinaan/kelanjutan bagi anggota tetap
Melibatkan para anggota sejauh mungkin sesuai dengan kemampuan dan kesediaannya pada hidup komunitas dan karya misioner anggota serikat Sabda Allah

Para anggota Paguyuban Soverdia adalah anggota yang merasa terlibat dalam suka maupun duka para misioner Serikat Sabda Allah (SVD).

Mengutus anggota-anggota ke suatu wilayah misioner atau tugas misioner untuk jangka waktu terbatas sesuai dengan kontrak

Para biarawan SVD memperhatikan kerohanian para anggota paguyuban sekeluarga melalui retret, rekoleksi, konsultasi, bimbingan rohani, menguatkan dan memperdalam iman
Mendoakan secara khusus para anggota semasa hidupnya maupun setelah meninggal dunia
Selain doa tetap juga dipersembahkan kurban misa, khususnya bagi intensi para anggota
Memohon doa untuk anggota SVD dari anggota paguyuban Soverdia agar dapat menjalankan tugas panggilan perutusan dengan baik.

KESIMPULAN

Bertolak dari langkah-langkah di atas jelas Paguyuban Soverdia sudah mendapat tempat sebagai rekan kerja dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Segala sesuatu yang dipaparkan merupakan idealisme yang hendak diperjuangkan. Langkah-langkah konkrit yang masih harus dilaksanakan, seperti:

  1. Pendalaman Kitab Suci
  2. Memahami visi dan misi sehingga dapat menjabarkan dalam hidup
  3. Mewujudkan spiritualitas misioner dalam hidup sehari-hari
  4. Menjadikan doa sebagai sikap dasar hidup
  5. Berani untuk mengikuti teladan Bapa Rohani Arnoldus Jansen dengan bersandar pada doa yang tekun dan berakar dalam iman dan berusaha mewartakan Kristus kepada semua orang. ***

 

Bagikan :